Artikel

PropertiMakmur.id

Properti Malang Raya Melenggang Semakin Kencang

Dibukanya akses langsung jalan tol dari Surabaya menuju Malang semakin menarik bagi pengembang properti menggarap pasar di Malang Raya. Apalagi setiap tahun ada sekitar 40-50 ribu mahasiswa baru masuk ke Malang.

PropertiMakmur.id – Masih serupa dengan beberapa tahun lalu, perkembangan Malang memang lebih agresif terlihat di pinggir-pinggir kota, terutama di Kabupaten Malang hingga ke Kota Batu. Seperti ke wilayah barat Kota Malang di Kecamatan Karangploso dan ke daerah Kecamatan Singosari di sebelah utara Kota Malang. Termasuk juga ke wilayah Malang Timur. Sementara dalam Kota Malang mulai nampak pengembangan gedung-gedung vertikal, termasuk hunian atau apartemen. Adapun pengembangan rumah tapak masih terlihat pada lahan existing dari perumahan yang sudah ada.

Hal ini juga sejalan dengan ekonomi di kota yang dijuluki Zwitzerlan Van Java yang masih tumbuh di angka sekitar 5,6 persen, melampaui nasional bahkan regional Jawa Timur pada tahun lalu. Dari segi investasi juga menunjukan minat yang cukup baik yang mencapai Rp36 triliun pada 2017 lalu. Sektor usaha perdagangan yang termasuk properti mendominasi, mencapai Rp10 triliun.

Kepala Bidang Pelayanan Perizinan DPM-PTSP Kota Malang, Iwan Rizali mengatakan, nilai investasi tersebut diolah berdasarkan Izin Usaha yang Diterbitkan DPM-PTSP Kota Malang.

“Izin-izin yang dikeluarkan memang banyak di sektor perdagangan dan jasa, termasuk perumahan, apartemen, dan hotel. Trennya juga makin naik,” kata Iwan dalam keterangannya kepada media massa.

Sayangnya, belum adanya kawasan industri sebagai salah satu instrument penggerak ekonomi membuat Malang belum berlari kencang. Meski demikian, potensi lain tetap menopang Malang dengan godaan yang cukup memikat. Salah satunya adalah semakin meningkatnya jumlah mahasiswa dari luar kota Malang, terutama dari wilayah timur Indonesia. Rata-rata setiap tahun berkisar antara 40 ribu hingga 50 ribu mahasiswa yang masuk ke Malang.

“Jumlah yang begitu besar tentunya butuh hunian. Kalau bukan di kos-kosan rumah warga, ya ngontrak rumah atau di apartemen. Bayangkan, kalau terserap 10 persen saja, kan sangat luar biasa properti di Malang,” kata Suwoko, Wakil Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Jawa Timur Komisariat Malang, di Malang, beberapa waktu lalu.

Menurut Suwoko, orang tua dari mahasiswa tersebut biasanya akan beli unit terutama apartemen untuk anaknya dan selanjutnya sebagai investasi. “Misalkan hanya 500 saja yang beli. Itu di luar yang sewa atau kontrak. Tentunya akan memberikan keuntungan yang sangat besar bagi bisnis properti,” tambahnya.

“Dan untuk kecepatan pertambahan nilainya sangat luar biasa sekali di Malang Raya. Kalau landed bisa serap di kisaran 400an unit per tahun,” sambungnya.

Besarnya potensi tersebut membuat banyak pengembang properti yang akhirnya masuk ke Malang Raya, menambah semarak 80 perusahaan anggota REI Malang yang sudah ada. Transaksi jual beli properti di Malang pun kian bergairah. Bahkan di beberapa pusat perbelanjaan di Kota Malang secara rutin menggelar pameran properti.

Pada tahun 2017 saja, ada sekitar 8 hingga 10 proyek properti landed baru yang dikembangkan di Malang Raya. Sedangkan apartemen ada sekitar 4 proyek yang masuk ke Malang.

“Pengembangan properti di Kota Malang saat ini sangat berkembang, sehingga pilihan hunian juga sangat beragam. Untuk ini, pengembang harus menonjolkan keunggulan proyeknya, baik dari segi kualitas juga konsep yang dibangun,” kata Hendra Hartanto, Presiden Direktur Bumi Nusantara Megah Group, pengembang Green Orchid Residence, Malang.

Green Orchid Residence (100 hektar) berada di tengah Kota Malang. Proyek ini merupakan kawasan mixed use, perpaduan antara hunian, komersil, perkantoran dan hotel. Pengembang lain yang juga sudah bercokol di Malang Raya, seperti The Araya Malang oleh Araya Group di lahan 1.000 hektar. Selanjutnya adalah PT Panorama Agro Tirta dengan proyeknya Villa Puncak Tidar dan AustinVille dengan luas masing-masing 200 dan 10 hektar.

The OZ, Australian City of Malang juga salah satu proyek prestisius di daerah Tidar, Malang. Proyek ini dikembangkan oleh Podo Joyo Masyur (PJM) Group seluas 35 hektar. Ada pula proyek Green Stone oleh PT Notojoyo Nusantara (30 hektar), The Lavender Town House Malang, Perumahan Permata Jingga (20 hektar) dan Griyasanta Eksekutif, serta Karangploso Townhouse yang dibangun oleh Mughnii Land di lahan 12 hektar.

Untuk hunian vertikal pun kini telah menghiasai Malang Raya. Seperti di Jalan Raya Dieng, ada proyek apartemen baru, yakni Malang City Point yang menggabungkan hunian, kondotel, citywalk dan shophouses. Kemudian Nayumi Sam Tower yang dibangun oleh PT. Malang Bumi Sentosa. Proyek ini berada di Jalan Soekarno Hatta, Jatimulyo, Lowokwaru, Kota Malang dengan luas lahan 4.900 m2.

Beberapa pengembang properti nasional juga sudah ada di wilayah Malang Raya. Sebut saja PP Properti yang masuk pada 2017 lalu dengan proyek vertikal Begawan Apartment di lahan 1,4 hektar. Apartemen yang menyasar mahasiswa ini berada dekat dengan beberapa perguruan tinggi di Kota Malang. Tidak dipungkiri sebagian besar pembelinya adalah investor yang berasal dari Bandung, Surabaya, Malang dan Jakarta.

Kemudian Adhi Persada Properti yang akan membangun apartemen Taman Melati Malang Dinoyo di lahan seluas 4.841 m2. Di skala perumahan, ada Ciputra Group melalui PT Ciputra Residence yang menggarap proyek CitraGarden City seluas 100 hektar di Malang Timur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Compare

WhatsApp chat